Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Apa itu Propensity modeling dalam perbankan

Propensity modeling mengidentifikasi atau memprediksi perilaku nasabah dilihat dari sample data nasabah tersebut. Propensity model sering digunakan untuk mengidentifikasi para nasabah yang paling besar kemungkinannya untuk merespon tawaran dari produk bank, atau untuk memfokuskan pada pada kegiatan retensi nasabah.

Model ini dapat diterapkan kedalam database perusahaan untuk melakukan scoring terhadap semua nasabah atau calon nasabah. Anda kemudian dapat memilih nasabah yang paling mungkin untuk di lakukan scoringnya

Propensiti juga dapat diartikan sebagai "kemungkinan", seperti :
  • Kemungkinan untuk menghitung dan memastikan tingkat keberhasilan atas campaign atau promosi tertentu ata suatu produk.
  • Kemungkinan untuk membeli atau mengambil produk yang ditawarkan
  • Kemungkinan untuk menunjukan perilaku churn (churn atau churn rate adalah adalah ukuran jumlah orang atau benda yang masuk atau keluar dari suatu kelompok dalam jangka waktu tertentu).  Istilah ini biasanya digunakan dalam konteks customer base sebagai persentase kastemer yang meninggalkan bank dalam jangka waktu tertentu. Hal ini menandai ketidakpuasan customer, tawaran lebih murah dari pesaing, pemasaran yang lebih baik oleh pesaing, atau penyebab lain.
Dengan Propensity modeling, berarti kita mengembangkan satu set persamaan atau formula matematika berdasarkan data historis yang kita miliki:
  • Memprediksi kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang.
  • Mengidentifikasi pendorong utama peristiwa, sebagai contoh, kita dapat membangun model untuk memprediksi gesekan, risiko peminjam atau kemungkinan untuk membeli produk tertentu
sebuah contoh pertanyaan di dalam sebuah perusahaan yang dapat dipecahkan dengan propensity modeling: 

"Kami memiliki anggaran untuk 1500 nasabah untuk diberikan campaign, tapi bagaimana caranya kami tahu target nasabah yang tepat?".

Cara kerja propnesity modeling:
  • Semakin tinggi skor artinya semakin tinggi kemungkinan nasabah untuk membeli.mengambil produk tersebut
  • Langkah berikutnya memilah dan mengelompokan nasabah berdasarkan skor tersebut
  • Memfokuskan kepada nasabah yang memiliki skor tertinggi.

BBM Murah Tidak Tepat untuk Indonesia

Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengatakan, Indonesia tidak tepat memakai kebijakan harga bahan bakar minyak yang murah. "Sebagai negara net importerminyak dan cadangan terbukti minyaknya juga sedikit, tidak bijaksana kalau mengikuti harga BBM murah seperti di negara-negara yang cadangan minyaknya melimpah," katanya di Jakarta, Selasa (27/3/2012).

Menurut dia, kebijakan harga BBM murah telah menyebabkan dana pemerintah terkuras untuk subsidi harga BBM, ketergantungan terhadap BBM yang berkelanjutan, impor minyak mentah dan BBM yang makin membesar, serta makin sulitnya energi lain berkembang.

Ia mengatakan, pada 2011 Indonesia memproduksi minyak sebesar 329 juta barrel, mengekspor minyak mentah 132 juta barrel, mengimpor minyak mentah 99 juta barrel dan BBM 182 juta barrel, serta mengkonsumsi BBM 479 juta barrel. "Secara total, Indonesia defisit sebesar 150 juta barrel," ujarnya.

Cadangan terbukti minyak Indonesia, lanjutnya, juga hanya 3,7 miliar barrel atau 0,3 persen cadangan terbukti dunia. "Indonesia adalah negara yang tidak kaya minyak. Kita lebih banyak memiliki energi lain seperti batubara, gas, CBM (coal bed methane), gas shale, panas bumi, air, dan BBN (bahan bakar nabati)," katanya.

Menurut dia, kebijakan BBM murah hanya cocok diterapkan di negara-negara yang cadangan minyaknya melimpah seperti Arab Saudi, Irak, Lybia, dan Venezuela.

Bahkan, tambahnya, harga bensin di Iran yang mempunyai cadangan minyak 138 miliar barrel, mencapai 0,67 dollar per liter atau lebih mahal dibandingkan Indonesia yang 0,59 dollar per liter dengan cadangannya hanya 3,7 miliar barel. "Harga BBM di Iran mahal, karena mereka mengutamakan gas untuk transportasi, rumah tangga dan listrik," katanya.

Iran mempunyai cadangan terbukti gas nomor dua di dunia yaitu 982 triliun kaki kubik sesudah Rusia, sedangkan Indonesia hanya 112 TCF.

Sementara, Widjajono mengatakan, negara-negara Amerika Latin yang antineolib seperti Brasil, Argentina, dan Chili, tidak menyubsisi BBM-nya, sehingga BBN dan industri nasional seperti mobil, pesawat, senjata, serta pertaniannya berkembang. "Di India, Pakistan, China, dan Vietnam juga tidak ada subsidi BBM, tetapi transportasi umumnya disubsidi, sehingga nyaman dan industri nasionalnya meningkat pesat," katanya.
    
China, menurut dia, menggunakan gas dan listrik untuk transportasi umum, serta sepeda motornya juga menggunakan listrik. (KOMPAS.com)
 
BSKIEN Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template